PPBI VI: Wallacea Pancen Oke

     Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) merupakan kegiatan tahunan yang rutin diselenggarakan oleh para pengamat burung Indonesia. Kegiatan ini sebagai wadah untuk berkumpul dan saling bertukar informasi mengenai dunia Ornithologi, juga membahas perkembangan Atlas Burung Indonesia (ABI) sebagai tujuan utamanya. Setelah sebelumnya Bandung menjadi tuan rumah, PPBI ke VI tahun ini dilaksanakan di Taman Wisata Alam Kerandangan, Lombok.  “Peburung Nusantara, Beragam Rasa Dalam Satu Cita”, merupakan tema besar yang diusung dalam pertemuan kali ini, dihadiri oleh para pengamat burung dari berbagai instansi dan kalangan seperti komunitas fotografer alam liar dengan total 77 peserta. Tujuh orang anggota BIOLASKA termasuk Dewan Adat turut bergabung di acara ini, berangkat bersama sahabat dekat BIONIC UNY.

     Lombok  sebagai kawasan Wallacea tentunya menyuguhkan jenis-jenis burung endemic dan menarik. Paok La’us/Elegant Pitta (Pitta elegans), Celepuk Rinjani/Rinjani Scops-owl (Otus jolandae), dan Cekakak Kalung-coklat/Cinnamon-banded Kingfisher (Todiramphus  australasia) menjadi mascot primadona yang ditawarkan dalam pertemuan kali ini. Acara berlangsung selama tiga hari, yakni tanggal 28-30 Oktober 2016.

     Hari pertama. Kegiatan diawaali dengan registrasi peserta dan pembukaan acara. Malamnya diisi dengan kegiatan sharing mengenai aktivitas apa saja yang dilakukan selama satu tahun terakhir dari seluruh simpul wilayah Indonesia yang hadir. Kopi dan kacang hangat menemani dalam dinginya malam. Suasana begitu cair, terkadang menjadi ramai dengan celetup guyonan-guyonan konyol. Acara dilanjutkan dengan hunting Celepuk Rinjani bersama. Dengan pancingan suara, raptor malam ini cukup mudah dijumpai. Tengger pada batang pohon yang tidak terlalu tinggi. Seperti kebanyakan burung hantu bergenus Otuslainya, burung ini berwarna coklat dengan bintik-bintik putih di seluruh tubuhnya. Matanya besar dengan iris berwarna kuning saat terkena cahaya.Para fotografer tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung mengambil posisi dengan lensa panjangnya. Si Celepuk hanya tolah-toleh saat termos panjang itu membidiknya berkali-kali. Senyum puas tergambar jelas di wajah mereka yang mendapatkan hasil sesuai keinginanya, tapi ada juga yang menggerutu karena gambarnya blur.

img_0344
Celepuk Rinjani tengger dengan tenang sambil melihat sekeliling (Foto: Nova Ika R., Biolaska)

     Hari kedua, paginya diisi dengan kegiatan hunting Paok La’us dan Cekakak Kalung-coklat. Peserta dibagi menjadi beberapa tim dan dipandu oleh panitia menuju spot-spot pengamatan. Pancingan suara tetap disiapkan untuk menarik burung tersebut agar keluar. Karena punggungnya dominan berwarna hijau dan kepalanya hitam, Paok La’us sangat sulit dilihat. Terlebih kebiasaanya yang mencari makan diatas tanah diantara semak dan perdu yang rapat menjadi tantangan tambahan. Suaranya sangat jelas terdengar dan begitu dekat, namun tak ada pergerakan sedikitpun dari burung ini. Ada juga peserta yang saling playback-playback-an (memainkan pancingan suara) namun saat didekati yang keluar adalah peserta lain. Alhasil tak ada yang mendapatkan gambarnya. Ada yang menjulukinya manuk setanGhost Pitta, “Ahok” (Ale Hoak), Pitta Hoak, Poak dan julukan-julukan aneh-aneh lainya sebagai ungkapan guyonan.

photogrid_1478141575859
Paok La’us yang sudah tidak menjadi “Ghost Pitta” (Foto: Desy Ayu Triana, KPB Nycticorax)

      Malamnya merupakan acara inti dengan agenda diskusi dan penyampaian perkembangan Atlas Burung Indonesia. Diskusi pertama dibawakan oleh Muhammad Iqbal atau biasa disapa bang iqbal, penulis jurnal burung paling produktif di Indonesia, menceritakan Kontribusi Fotografi Alam Liar Dalam Ornithologi. Foto burung dari para fotografer banyak memuat informasi-informasi baru, baik temuan untuk suatu kawasan hingga jenis baru.Bahkan menjadi tulisan yang dimuat dalam jurnal internasional sekaligus menambah jumlah penulis jurnal Indonesia yang selama ini banyak didominasi oleh orang luar negeri. Diskusi dilanjutkan dengan penyampaian perkembangan ABI oleh Imam Taufiqurahman dari Kutilang Indonesia, juga sebagai coordinator Simpul Nasional. Berdasarkan data yang masuk hingga Oktober 2016 tercatat sebanyak 834 jenis burung, 236 grid (2000-2016), 1097 grid (hingga 1999) dari 20303 entrian data. ABI juga sudah mengeluarkan 5 lembar jenis, bahkan menulis publikasi yang menyuarakan penegasan tentang pembuatan Atlas Burung Indonesia oleh para pengamat burung Indonesia.

dscn0091
Sharing kegiatan simpul wilayah

        Diskusi berlanjut dengan cerita tentang “Citizen Sains” (Peneliti Warga) yang dibawakan oleh Swiss Winasis dari Taman Nasional Baluran. Banyak akun web luar negeri tentang project citizen sains yang tentu mendapatkan begitu banyak sokongan materiil dari berbagai lembaga ilmu. ABI menjadi project besar citizen sains di Indonesia tanpa sokongan dana sepeserpun kecuali dari Gusti Allah Foundation, dan data yang dihasilkan mampu melebihi project luar negeri. Hal ini tentu tidak lepas dari kontribusi pengamat burung Indonesia yang banyak menyumbang data, juga aplikasi “BURUNGNESIA” yang dibuat dan dikeluarkan Birpacker mempermudah pengamat burung untuk mencatat dan mengirimkan data. Diskusi  yang dibawakan oleh mas Swiss begitu bersemangat dan membara, membuat hati ini tersentuh. Diskusi ditutup dengan tepuk tangan meriah dari peserta. Sebuah kemajuan dan kemenangan besar.

     Hari ketiga, merupakan hari terakhir. Sebelum penutupan, kali ini peserta diajak melihat keindahan Gili Meno dan Bukit Nipah. Ada beberapa peserta yang masih penasaran dengan “Ghost Pitta” dan memilih di camp untuk mencari fotonya. Ditambah dengan hadiah uang dan kaos yang ditawarkan dari Birdpacker dan peserta lain, hal tersebut tentu memantik semangat para peserta. Pada akhirnya julukan Ghost Pitta terpatahkan karena beberapa peserta ada yang mendapatkan foto yang sangat apik.

      Peserta yang menuju Gili Meno diajak mengitari pulau sembari mengamati berbagai jenis burung air dan burung pantai. Ditengah pulau terdapat danau air asin sebagai habitat burung-burung tersebut.Bukit Nipah menawarkan raptor migrant sebagai daya tarik dengan pemandangan pantai malimbu dan laut lepas. Puluhan Sikep Madu Asia (Pernisptilo rhynchus) dan ratusan Elang Alap Cina (Accipiter soloensis) dating entah dari mana, terbang dan soaring cukup rendah. Dengan sigap para fotografer membidik sasaran. Begitu dekatnya hingga bias mendapatkan foto“eye level”. Kala matahari tepat berada di tengah peserta kembali ke camp untuk acara penutupan, dan acara ditutup dengan guyuran hujan yang cukup deras.

dscn0203
Elang Alap Cina soaring
dscn0113
Elang Alap Cina

Sampai Jumpa pada PPBI VII  di Bima, Nusa Tengara Barat.

Penulis         : Sigit Yudi Nugroho
Penyunting  : Div. Keorganisasian

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s