Cerita dari Tanah Sunda

tanah sunda

Tuuuuttt….tuuutttttt… dering nada yang begitu keras ini terdengar di pagi hari membangunkan semua makhluk yang tinggal di sebuah petak rumah kecil di kaki Gunung Guntur. Tak ada suara dari mulut mereka, yang ada hanya bunyi langkah kaki yang berebut tuk mencari kamar mandi dan suara-suara aneh yang keluar dari sudut ruang dimana terlihat orang terbaring di karpet lantai ini (ngorok). Ku lihat tanda waktu di HP sudah menunjukkan pukul 05.30 WIB, saatnya keluar tuk sekedar merentangkan tangan dan menggerakkan kaki walau iler masih terasa melekat di pipi kanan dan kiri tetapi ku anggap saja sebagai aroma terapi.  Waw.. bentangan gunung yang menjulang  tinggi tepat berada di depan pelupuk mata. Panorama yang begitu menyejukkan hati hasil karya sang Maha Pencipta. Inilah Garut, kota kecil yang berada di selatan Jawa Barat ini terkenal dengan panorama Gunung-gunungnya yang megah. Ada Papandayan, Guntur, Galunggung, Cikuray dan gunung-gunung kecil lainnya yang membuat orang lokal berkata “kemanapun anda memandang disitu gunung menghalang”.  Inilah sedikit cerita dari Garut kota dodol, kota domba dari tanah sunda.

Bukan untuk ekspedisi, bukan untuk eksplorasi, namun hanya untuk sekedar menjalankan misi dari negara ini. Misi utama tentunya mencari nyamuk dan jentik karena itu sudah menjadi SOP (Standar Operasional Prosedur) dalam kegiatan ini.

Pembaca : “Lho… sik-sik… Kegiatan lapo iku?”

Pengetik : “Kegiatan Rikhus Vektora gan.”

Pembaca : “opo iku Rikhus Vektora?”

Pengetik : “Iku kegiatan Riset Khusus Vektor dan Reservoir, untuk meneliti makhluk hidup yang menjadi Vektor penyakit (contoh: Nyamuk) dan reservoir (Contoh : tikus dan kelelawar)”

Pembaca : “Ohhh…..”

Pengetik : “Mudeng…(ngerti)?”

Pembaca : “Ora…(tidak)”

Pengetik : “ ………………………….. wis turu lik sing ngetik”

Wis… kalau tidak tahu silahkan di googling aja atau kalau sudah pusing silahkan klik close di pojok atas.  Bukan acara itu yang akan kita bahas jadi trending dalam tulisan ini. Bukan karena pelit, bukan karena tidak bisa diceritakan detail kegiatannya tetapi ini acara negara ya harus minta izin dulu ke Ibu Menteri yang ada di Jakarta sana. Waw… daripada kita menunggu 2 bulan lagi baru keluar izinnya ya mending kita bahas kegiatan sampingannya saja lah. Apa kegitan sampingannya? Ya apa lagi kalau tidak mbolang.

Tulisan ini ditulis setelah penulis melalui waktu selama 288 jam dari 720 jam yang telah di tetapkan. Sebanyak 288 jam tersebut tentu ada beberapa tempat yang telah dikunjungi. Pertama kita buka dari daerah barat Garut yaitu Leles. Daerah ini memiliki kontur tanah perbukitan dan gunung. Terdapat gunung berapi  disini yaitu Gunung Guntur yang tepat berada di depan basecamp pertama kita. Hawa dingin yang cukup menyerang saat malam menjadikan mata ini mudah tuk dipejamkan apalagi di kasur empuk dengan SB yang menyelimuti…huhh brrr. Eitt… tidaklah mari saatnya mendata apa saja yang kita temukan disini. Pertama dan yang utama tentu sosok penguasa kegelapan di langit biru siapa lagi kalau bukan Elang Hitam. Elang ini menjadi satu-satunya elang yang ditemukan disini. Sayang saat ia menampakkan bentangan sayapnya tak ada kamera yang bisa untuk menangkapnya (keri neng basecamp lik). Hanya DSLR yang ada ditangan… hah apadaya dikau tak terjangkau. Adanya raptor ini disini tidak lain karena daerah ini menurut warga setempat masih banyak tikus berkeliaran. Hutan sekunder yang berada di perbukitan berbatasan dengan ladang warga menjadi habitat sang raptor ini. Burung lain yang terdata disini yaitu Cekakak Jawa, Cucak kutilang, Cinenen pisang, Bondol jawa, Bondol peking, Cabai jawa, Caladi ulam dan Wiwik kelabu. Khusus untuk wiwik kelabu perjumpaan dengan burung ini menjadi spesial karena berhasil di dokumentasikan dengan baik (cita-cita terpendam). Untuk spesies capung, kupu-kupu dan lainnya maaf, tidak sempat mendata.

wiwik kelabu

Wiwik kelabu sedang bertengger di rantng pohon

Kita tinggalkan Leles, mari melompat ke Cikajang daerah yang lebih dingin lagi dari Leles. Dingin karena daerah ini berada diketinggian lebih dari 1300 mdpl. Daerah ini merupakan daerah yang berada di kaki Gunung Cikuray. Daerah perkebunan yang didominasi kebun wortel, kobis dan tomat (sayuran sehat). Setiap pagi bila cuaca cerah anda akan dimanjakan dengan sunrise yang indah dari balik sang Gunung Cikuray. Suasana jadi lebih indah disini karena terdapat banyak sekali sosok-sosok cantik dengan bibir menornya siapa lagi kalau bukan Cekakak jawa. Burung dengan nama latin Halcyon cyanoventris ini sangat banyak ditemukan disini. Total ada lebih dari 10 ekor yang berterbangan di perkebunan ini. Adanya sungai yang membelah perkebunan warga dan terdapat vegetasi yang lebat di pinggir sungai menjadi habitat yang nyaman bagi burung ini.

Sunrise dari balik Gunung Cikuray

cekakak jawa

cekakak jawa

Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris) menjadi burung yang banyak dijumpai di Cikajang-Garut

Kalau Cekakak jawa sudah nyaman tinggal disini ada satu lagi spesies yang nyaman juga tinggal disini. Kali ini datang dari dunia serangga yaitu capung dan salah satu sosok capung yang nyaman tinggal disini adalah Orthetrum luzonicum. Capung yang dikenal juga dengan sebutan Marsh Skimmer ini memiliki pesebaran dari Asia selatan, Jepang keselatan sampai ke Jawa. Capung ini menjadi temuan yang spesial untuk saya. Selain baru pertama kalinya berjumpa dengan jenis ini, untuk di Jawa capung ini menjadi spesies yang tidak umum dijumpai disembarang habitat. Menurut Dow (2010), capung ini menyukai habitat daerah basah seperti rawa, sungai dan persawahan yang masih tergenang air. Capung ini memiliki morfologi yang mirip dengan Orthetrum glaucum. Namun yang membedakan keduanya adalah O. luzonicum jantan memiliki mata yang berwarna biru cerah, abdomen ke-3 lebih ramping dan silindris jika dibandingkan dengan O. glaucum. Thorak dari O. luzonicum berwarna coklat kehijauan dan pada bagian dorsal thorak terdapat strip kuning seperti huruf “Y”.

ortetrum galucum

ortethrum

Orthetrum luzonicum jantan (kiri) dan Orthetrum galucum jantan (kanan)

Terdapat sekitar 5 ekor capung pada perjumpaan kali ini. Mereka sedang berterbangan bersama dengan jenis Orthetrum pruinosum betina yang sedang bertelur dan kadang di usir oleh O. pruinosum jantan. Lokasi perjumpaan berada di sungai kecil di bawah tebing dengan vegetasi yang cukup lebat di atas tebing. Dibawahnya terdapat area rerumputan yang cukup luas dan kebun wortel dimana tempat itu selain menjadi habitat O. luzonicum juga menjadi habitat jenis capung lainnya seperti Orthetrum sabina, Trithemis aurora, O. glaucum, Vestalis luctuosa dan Euphaea variegata. So… dengan ditemukannya beberapa jenis capung tersebut bisa dikatakan bahwa perairan diwilayah tersebut masih bersih dan mungkin belum tercemar.

Burung, capung dan biodiversitas lainnya yang dimiliki Indonesia merupakan aset bangsa yang tak ternilai harganya. Kalau bukan kita yang menjaga lalu siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau tidak mulai dari sini, dimana lagi? Kalau tidak mulai dari hal yang mudah seperti menulis, terus apa lagi?.

Pembaca : “Nulis susah e gan…”

Pengetik : “Ya sama… saya juga susah nulis ini, butuh 2 mingggu lebih gan buat menyelesaikannya”.

Pembaca : “Terus… syarate nulis sing apik piye gan (Syarat menulis yang baik bagaimana gan?)”

Pengetik : “LHO… semua orang bisa menulis yang baik dan bagus asal punya pengalaman dan pengetahuan tentang apa yang mau ditulis, jangan muluk-muluk nulis jurnal internasional dulu, mulai dari yang sederhana dulu lah… yaa semacam yang baru anda baca lah”.

Pembaca : “Oh… Ok siaapp!!”

Pengetik : “Siap bikin tulisan??”

Pembaca : “Siap nge-close web iki lik… wis bosen…haha”

Pengetik : “Jangkeeriiikkk….”

Pembaca : “Kalau ada tulisan baru lagi ya saya buka lagi gan… sabar…”

Pengetik : “Setubuuh ehhh setujuuu…”

 

Penceramah : Dissetia Eka Putra 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s