Mega Kontruksi Burung

Manyar 2

Burung Manyar Tempua

Mentari mulai merayap dari persinggahanya, memancarkan cahaya yang begitu hangat.Uap putih mulai terlihat samar-samar membumbung keluar dari semak-semak dan rerumputan. Sekelompok burung Bondol Jawasibuk memakan biji kuning yang menjuntai kebawah diiringi nyanyian burung-burung lain yang saling berpadu menciptakan simfoni yang begitu syahdu.

Diantara semak-semak kubuat sedikit ruang yang kira-kira cukup untuk dua orang. Segera kupasang tripod dan monocular, menyetel ketinggianya setinggi mata dalam posisi jongkok yang mengarah pada salah satu pohon tinggi yang ada di tengah persawahan. Posisi saya dengan pohon tersebut dipisahkan oleh sungai yang cukup lebar dengan aliran yang tenang tapi pasti.

Dari lubang lensa yang kecil saya mulai mengamati dan memfokuskanya dengan memutar tombol yang ada dibagian atas. Terlihat sesuatu seperti buah labu siam dengan ukuran jauh lebih besa rmenggantung pada ujung dahan. Itu bukan buah dari pohon tersebut, namun sebuah sarang burung Manyar Tempua (Ploceus philippinus).

Di dunia burung, warna menjadi salahsatu kunci untuk membedakan antar jenis, termasuk jantan dan betina. Umumnya warna burung jantan lebih menarik dan mencolok dibandingkan dengan burung betina. Manyar Tempua dominan berwarna kecoklatan bercoret hitam pada tubuh bagian atas. Yang membedakan adalah warna kuning terang pada bagian mahkota dan warna hitam pada muka. Paruhnya tebal yang berfungsi untuk memakanbiji-bijian. Burung dari keluarga Ploceidae ini tersebar di Sumatera, Jawa, dan Bali namun jarang dijumpai. Biasanya di daerah terbuka seperti persawahan atau daerah berumput dan memiliki semak-semak.

Burung ini memang memiliki keunikan tersendiri, saat musim berbiak koloni ini akan membuat sarang pada satu pohon yang sama dan saling berbagiruang. Namun di musim lain akan selalu bergerak dan berpindah. Ada Sembilan sarang menggantung saling berdekatan dalam satu pohon tersebut, kebanyakan letaknya di bagian atas. Dua diantaranya setengah jadi dan masih dalam proses pengerjaan. Jika dalam satu sarang dihuni oleh dua individu (jantan dan betina), kemungkinan jumlah keseluruhan dalam satu pohon tersebut ada 18 individu bahkan lebih.

Terlihat dari lensa monocular sarang tersebut melilit pada ujung dahan. Jika konstruksi akhir dalam posisi menggantung dengan ukuran yang cukupbesar, tentunya harus pandai memilih manadahan yang cukup kuat untuk menopang beban sarang tersebut. Dan ini menjadi salah satu keahlian yang dimiliki burung ini, pemilihan dahan yang tepat akan menghasilkan konstruksi yang kuat.

Burung dengan mahkota berwarna kuning terlihat sibuk di atas sarang yang masihs etengah jadi, terkadang pergi dan kembali lagi membawa material sarang. Material tersebut diperoleh dari jenis-jenis rumput tinggi dan ujung daun bambu yang masih menggulung di sekitar pohon tersebut. Rumput dan ujung daun bambu tersebut dipotong menggunakan paruhnya yang tebal. Jika sudah terpotong akanlangsung dibawa menuju sarang, kemudian diselipkan pada sarang bagian luar. Burung akan berpindah menuju kedalam sarang dan menarik material yang sudah diselipkan tadi. Keahlianlainya, burung ini sangat ahli dalam merajut membentuk susunan yang sangat rumit.

Manyar

Sarang Burung Manyar Tempua

Saat selesai burung akan keluar dari dalam sarang, bertengger di dekat sarang dan mengawasi keadaan sekitar sambil mengeluarkan suara yang cukup gaduh. Ketika ada jenis burung lain bertengger di dekat sarang, koloni akan mengeluarkan suara yang keras salin gbersautan dan rebut hingga burung tersebut pergi. Kemungkinan hal ini dilakukan untuk mempertahankan sarangnya. Saat dirasa aman burung ini akan pergi dan kembali lagi membawa material sarang. Tidak hanya rumput dan ujung daun bambu, terkadang teramati menuju persawahan mengambil tanah yang lembek namun tidak terlalu basah dengan paruhnya dan membawanya kedalam sarang. Saya belum tau fungsi pasti dari lumpur tersebut, namun asumsi pertama adalah untuk memperkuat sarang layaknya bangunan yang di semen.Kegiatan tersebut dilakukan secara berulang-ulang sampai membentuk seperti buah labu siam secara utuh.

Sarang yang telah jadi ada dua lubang dibagian bawahnya, dipisahkan susunan rajutan yang berfungsi untuk transit saat akan masuk dan keluar sarang. Didalamnya terdapat semacam cekungan yang digunakan untuk bertelur (pernah merogoh sarang yang jatuh). Jadi dua lubang dibagian bawah sarang hanyalah pintu masuk untuk menuju sarang sesungguhnya yang terletak dibagian dalam.

Sekarang sarang-sarang tersebut sudah tidak ada lagi dan penghuninya pun pergi entah kemana. Menurut penuturan salah satu teman, sarang-sarang tersebut sudah diambil orang dengan cara memotong dahan-dahanya. Saya sudah paham tujuan orang-orang tersebut, tentunya untuk mengisi perut dengan cara menukarnya dengan sejumlah uang. Atau membesarkanya sendiridi dalam rangkaian jeruji persegi dari serutan bambu. Bertambah satu lagi jenis burung yang keberadaanya terusik dan terdesak, hingga suatu saat benar-benar tidak dapat dijumpai lagi. Entah kapan burung-burung ini akan bias hidup tenang, dirumahnya… di alambebas.

Penulis : Sigit Yudi N

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s