Cerita Ekspedisi Ungaran (Pemanasan 1)

Ketika carrier itu terasa pas di punggung

Ketika api telah disulut

dan ketika telor telah diceplok.. hha

Maka lihatlah kami, niscaya kalian akan berkata

“ahh… mengapa cara kalian untuk bahagia begitu sederhana”

 

Setelah sekian lama blog ini hiatus, hari ini admin pengen cerita soal perjalanan Biolaska ke Ungaran, khususnya wilayah Gunung Gentong dan Promasan yang terkenal dengan kebun tehnya. Pak Kepala Suku Biolaska menyematkan nama blusukan ini dengan “Ekspedisi Gunung Ungaran”. Yah meskipun hanya dilakukan selama satu minggu, yaiut sejak  14-21 April 2016 tapi tally seet pengamatan kami sudah penuh sampai luber-luber dengan daftar jenis flora daun fauna yang kita amati. 🙂

Sebelum mulai cerita blusuk-memblusuk, admin ingin memperkenalkan para ekspeditor yang sedang melakukan observasi lapangan pada hari pertama ekpedisi.

DSCN2110.JPG

Kiri-Kanan: Nurdin, Azam, Sigit, Tya, Paijo, Lala, Tika, Dini

Lanjut cerita spesies…..

Setelah berkeliling dan menemukan lokasi yang nyaman untuk mendirikan tenda, tanpa buang-buang waktu para ekspeditor langsung berkeliling di sekitar area camp, siapa tau dewi fortuna mempertemukan kita dengan  yang unyu-unyu.. hhe. Nahh… Ibarat Tumbu nemu Tutup (pas/cocok)… haha, kok ya ndilalah setelah tengok sana-sini akhirnya tim ekspeditor menemukan satu spesies unik yang cukup melimpah di kawasan Bukit Gentong. Eng.. ing.. eng inilah “katak tanduk/Horned Fork” (Megophrys montana). Yahh layaknya nama yang disematkan ke katak ini,  bagian atas mata katak yang termasuk famili Megophryidae ini mengerucut menyerupai tanduk.

DSCN0960Katak Tanduk (Megophrys montana)

DSCN1050

 Katak Tanduk (Megophrys montana)

Selain hunting herpetofauna, para ekspeditor ini juga doyan sama kelompok anggrek-anggrekan (Orchidaceae). Tidak jauh dari penemuan pertama, tim ekspeditor menemukan jenis anggrek daun. Sampai saat ini belum ditentukan secara pasti apa nama spesies dari anggrek daun ini, para ekspeditor menduga anggrek ini masuk dalam Genus Zeuxine. Mungkin saudara yang sedang menikmati postingan ini bisa bantu identifikasi.. hhe

DSCN1039

Setelah ketemu dengan yang bening-bening, admin ingin menyapa teman-teman yang sedang mencoba menjadi really citizen science . Mengambil gambar, berdiskusi, mencatat, dan mengamati lebih detail pada obyek kajian dan habitat sekitarnya, ini menjadi menu wajib yang tidak boleh ketinggalan. Bagi kami mungkin biar gak dibilang dobos alias omong doang kali ya.. hhe. Tapi ini serius -banget- memang inilah pekerjaan kami sesungguhnya dilapangan, bukan cuma hahahihi dan selfie sana-sini. Meskipun kami amatiran-eh maksudnya saya selaku admin aja deh- tapi kami tetap berusaha sebaik mungkin dalam melengkapi standart operasional penelitian khususnya di lapangan. Mulai dari mengukur parameter lingkungan (kadar pH air/tanah, kelembaban udara, suhu dan intensitas cahaya) sampai mengukur morfometri jenis herpetofauna yang kami temui. (Ya.. iyalah buat data skripsi.. ehh.)

We are citizen science broo..

Karena cerita perjalanan tanpa ada bumbu susah, sedih, galau, merinding dan cerita pekok tentang masalah BAB itu kurang lengkap (yang ini minta cerita langsung saja sama Bang N*****, pasti lebih seru -maap ngeh mas.. hhe-), maka nyooh kami persembahakan gimana rasanya wildlife sesungguhnya.. haha…

Adalah ceritane leader ekspedisi mas Candra Soekar yang membabat rimbunan semak penghalang proses pencarian herpetofauna sampai cerita berdarah dari Mas Sigit yang kakinya disruputi sama pacet doyan darah muda.. hhe. Tapi apapun kondisi lapangan yang ada, para ekspeditor ini tetep senyum-senyum semangat sambil terus menyusuri aliran sungai demi mencari jenis herpetofauna yang belum masuk daftar penemuan.

DSCN1214-horz

Foto blusukan di sepanjang sungai

Untuk menutup kisah ekspedisi sederhana ini, admin sajikan beberapa foto “dibuang sayang” dari para ekspeditor kita. Kesimpulannya apa ngeh??  mungkin saudara-saudara sekalian lebih bijak dalam menyimpulkan dari pada admin.. hhe. Tapi saya pengen mengutip salah satu pesan dari ekspeditor kita (Nugroho, 2016).

“Kalo memang suka ke lapangan jika ada waktu luangkanlah pergi keluar (hutan,gunung,dll), tidak hanya pengetahuan dan ilmu yg akan didapat, tapi juga cerita konyol, padu “Lapo-lapo” ala jawa timuran, sampai kejadian mistis menjadi bumbu pelengkap. Ngerjain laporan praktikum? Percayalah tulisan yg kau tuangkan di atas lembaran kertas itu hanya akan menjadi sejumlah angka yg tak bisa diceritakan ke sesama, bahkan hanya menjadi tumpukan yg akan terabaikan dan berakhir di loakan.
Selamat blusukan…”

“Dari pada gak lapo-lapo mending ayo ngopo-ngopo” :D,

Akhirnya sampai ketemu di cerita selanjutnya.

Salam Eksploratum in the universum… 🙂

Admin: CenilMeonk

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s