Mengapung, Obat Stres Kalau Lagi Bingung

Stres? Mengapung? Ih, gak nyambung…

Eits… Jangan bingung dulu, yang ini bukan sembarang mengapung. Mengapung adalah akronim dari Mengamati Capung. Paling tidak, itulah nama yang disepakati teman-teman Biolaska (khususnya sub-divisi BENTO/ Biolaska Entomologi) untuk menyebut istilah saat mencari, mengamati, memotret, atau mengidentifikasi capung.

Capung/ dragonflies/ naga terbang adalah sekelompok serangga yang telah dibuatkan ordo sendiri oleh para ahli, yakni Ordo Odonata. Nama Odonata ini berasal dari bahasa Yunani yakni gigi, atau merujuk pada geligi yang ada di mandibel/ rahang (Borror et al., 1979). Ordo ini mencakup seluruh jenis capung dan capung-jarum. Odonata merupakan kelompok serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna/ hemimetabola, yakni tahapan metamorphosis yang melalui fase telur, nimfa dan dewasa. Telur diletakkan oleh induk di dalam air, nimfa bersifat akuatik sedangkan dewasa naik ke darat dan aktif terbang. Lebih lanjut saya tidak akan membahas masalah capung yang Pak Borror tuliskan dalam buku “Pelajaran Pengenalan Serangga” itu di sini karena efek sampingnya bisa fatal untuk beberapa orang jika dosisnya melampaui batas (termasuk saya).
Setelah burung dan kupu-kupu, mengenal capung adalah salah satu wajah baru bagi Biolaska. Tentunya bukan hal yang benar-benar baru, karena kita sudah kenal istilah capung sejak kecil, paling mentok waktu sekolah dasar pasti sudah dikenalkan oleh ibu/ bapak guru. Mitos tentang si capung yang dapat menyembuhkan penyakit ngompol pada anak-anak (atau dewasa) jika pusarnya digigit capung ternyata berdampak negatif. Berbeda dengan mitos burung wiwik (Cacomantis sp.) yang mengakibatkan kelestarian burung tersebut karena siulannya dipercaya membawa kabar kematian, sehingga orang akan takut menangkapnya. Lalu apa yang menyebabkan mitos si capung di atas menjadi berdampak negatif terhadap kelestariannya?

Treup Jang Treup Jang
Lamun enteup keur si Ujang
Maksudnya:
Hinggaplah Hinggaplah
Kalau hinggap untuk Ujang (anak laki-laki)
(Syair Sunda untuk menangkap capung)

Sembari mengapung bersama komplotan BENTO, tidak jarang saya mendengar cerita tragis si capung di kehidupan sehari-hari. Anak-anak yang punya penyakit ngompol, pasti akan memunculkan inisiasi dan kreasi sang ibu untuk menangkap capung. Tidak tanggung-tanggung, kalo susah menangkap si capung dengan tangan kosong, maka getah buah nangka, permen karet dan jaring adalah media paling solutif. Setelah tertangkap, ibu memegang keempat sayap capung, mengarahkan kepala capung ke arah pusar si anak yang wajahnya sudah merem melek karena tau pusarnya mau digigit hewan asing bermuka seram.

Tidak lama setelah pusarnya digigit capung, si anak menjadi berhenti takut dan berhenti menangis. Gigitan hewan itu ternyata sama sekali tidak sakit, namun geli. Setelah kejadian itu, anak-anak akan meminta si ibu, bapak, kakak, nenek dan yang lainnya untuk menangkap capung. Bahkan lama-kelamaan anak itu akan pandai menangkap capung sendiri. Lantas apa yang akan anak-anak lakukan setelah si capung ada di kedua tangan mereka? Segeralah si anak mengambil tali/ benang dan mengikatkan salah satu ujungnya pada abdomen si capung. Tidak lupa di ujung tali yang lain diberi ekor tambahan dari bahan plastik atau kertas. Anak yang lebih kreatif akan mengikatkan ujung tali yang lain ke abdomen capung yang berbeda, sehingga saat dilepaskan akan terjadi pertunjukkan menarik. Anak-anak balita yang belum kenal apa itu makhluk hidup, akan dengan sadis mempreteli sayap-sayap dan kaki si capung. Sungguh luar biasa tragis, sadis, dan miris. Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana cara mengatasi adanya mitos yang merugikan ini?

Dari pada bingung memikirkan jawaban pertanyaan di atas, mari kita kembali ke topik mengapung. Geliat kegiatan mengapung khususnya oleh teman-teman Biolaska muncul setelah terbitnya buku “Naga Terbang Wendit” oleh Indonesia Dragonfly Society (IDS) yang digawangi Pak Wahyu Sigit. Buku tersebut adalah buku pengenalan jenis-jenis capung kedua yang Biolaska punya setelah buku saku panduan pengenalan capung terbitan LIPI, Bogor. Kedua buku tersebut lantas menjadi pedoman yang dapat membantu teman-teman dalam mempelajari dan mengenal keanekaragaman jenis capung di Pulau Jawa. Apabila terdapat jenis yang tidak ada dalam kedua buku tersebut, maka grup facebook Mencintai Odonata Nusantara, situs Semarang Odonata Web atau situs web FOBI adalah jalan terakhir.
Sama halnya dengan saat mengenal kupu-kupu pertama kali, kesukaan teman-teman Biolaska muncul karena gemar jalan-jalan dan motret makro (maklum, masih banyak yang hanya berbekal kamera saku). Apalagi selama bulan Ramadhan kemarin (1434 H/ 2013 M) teman-teman seperti kekurangan gairah untuk hunting burung (yang jelas butuh tenaga ekstra untuk sampai ke hotspot birdwatching di Jogja). Basecamp Muria 8 milik Biolaska penuh oleh orang-orang yang lagi galau dan bingung. Kemudian tercetuslah ide untuk Mengapung, karena spotnya gak perlu jauh-jauh. Yups… memilih kali Gadjah Wong yang terletak di timur Kampus UIN Sunan Kalijaga dirasa menjadi ide paling brilian untuk mengapung. Semula hanya seorang dua orang, lalu tambah lagi dan tambah lagi. Lebih-lebih bagi mahasiswa yang tidak ngapa-ngapain di semester pendek ini (ngambil kuliah SP endak, ngerjain skripsi juga endak, apalagi KKN, miniriset, PKL dan sekerabatnya), maka tawaran untuk mengapung adalah obat paling mujarab untuk penyakit bingung dan linglung. Tidak ragu-ragu berbagai jenis capung yang sliwar sliwer pun menjadi sasaran tembak kamera abal-abal.

Selama bulan ramadhan kemarin, tidak kurang dari 26 jenis capung dapat teridentifikasi di bantaran kali Gadjah Wong, terutama di area kolam ikan dan persawahan di pinggir kali. Sebagian besar jenis dapat terdokumentasi dengan baik, sedangkan sedikit diantaranya sangat sulit untuk mendokumentasikannya karena perilaku si capung yang aktif dan jarang hinggap. Apalagi kamera yang ada di tangan masih abal-abal, belum bisa atur speed dan sebagainya. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah, niatnya kan buat ngilangin bingung… Eh, Alhamdulillah dapet bonus ilmu dari si capung. Berikut ini beberapa dokumentasi jenis capung yang didapat selama mengapung bulan ramadhan kemarin.

Paraghompus reinwardtii – jantan
Paraghompus reinwardtii – betina
Paraghompus reinwardtii – muda

 

Neurothemis ramburii
Bento sedang Mengapung
Libellago lineata
Image
Copera marginipes – jantan
Image
Tholymis tillarga – jantan

Anda sedang bingung??? Mari mengamati capung…

SD

Iklan

4 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s