Bulan september di Citiis, Tasikmalaya

Tasikmalaya, merupakan salah satu kota yang memiliki banyak obyek wisata alam. Salah satu tempat wisata alam yang sering dikunjungi oleh wisatawan adalah daerah lereng gunung Galunggung, seperti cipanas, kawah cipanas, dan citiis. Namun agaknya obyek wisata alam tersebut belum digali dan dieksplorasi secara menyeluruh terutama dalam hal keanekaragaman hayati khususnya keanekaragaman hayati burung liar.

Suatu hari di bulan September, saya berencana untuk hiking ke tempat wisata alam yang bernama citiis. Citiis ini berada di kecamatan Padakembang,. Tempat tersebut hanya dapat diakses dengan berjalan kaki atau mengendarai sepeda motor. Jalan berpasir,berbatu, terjal dan tentunya sangat sempit menjadi kesulitan tersendiri untuk saya yang sudah lama tidak melakukan hiking. Melihat cuaca dan iklim tasikmalaya yang sejuk, dingin dan masih rimbun oleh pohon-pohon, saya berasumsi bahwa keanekaragaman burung liar di daerah tersebut pasti cukup melimpah. Asumsi yang saya kemukakan ternyata tidak begitu meleset karena baru seperempat perjalanan menuju citiis saya sudah mendengar banyak kicauan burung-burung hutan, meskipun saya belum tahu jenis burung apa yang sedang berkicau tersebut.

Memasuki hutan bamboo mulai terdengar wiwik uncuing dan cekakak jawa yang sedang berkicau, dan burung-burung seperti cekakak sungai, kutilang, bondol jawa, greja erasia, wallet linci,jenis puyuh-puyuhan, cica kopi-mlayu, cinenen, dan beberapa burung yang saya tidak kenal suaranya mulai menambah rasa penasaran yang sejak awal perjalanan saya simpan. Perjalanan terus berlanjut, sambil menikmati sejuknya udara di pegunungan saya terus memasang telinga dan mata awas. Beberapa menit kemudian, saya mendengar dan melihat seekor elang ular-bido sedang soaring kurang lebih lima meter diatas tembing cities, dan seekor elang yang sedang molting. Alih-alih ingin mengabadikan elang tersebut, saya pun berjalan lambat dan mencoba mengambil beberapa frame namun keahlian yang pas-pasan membuat foto hasil jepretan blur semua.

Pukul 10.00 WIB, saya tiba di  citiis. Gemericik air, udara yang dingin namun sinar matahari yang tetap panas memaksa kami untuk beristirahat dan mulai menikmati panorama yang tersaji di depan mata. Masih terlalu banyak burung yang tinggal disini dan belum saya ketahui jenisnya. Seandainya warga dan pihak pemerintah wisata alam mengetahui pentingnya mengenal setiap mahluk hidup  baik habitat dan tingkah lakunya saya yakin bahwa kelak sepuluh tahun lagi generasi muda akan tetap dapat menikmati alam beserta flora dan faunanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s