UPAYA PENYELAMATAN PARA PENERBANG CANTIK YANG (NYARIS) TERABAIKAN*

Oleh: Untung Sarmawi

Judulnya lebay ya..? he he he… Awalnya sungguh tidak ada niat sama sekali untuk membuat sebuah buku. Keberanian untuk menyusun buku tentang kupu-kupu bisa di bilang suatu tindakan nekat. Betapa tidak,  secara keilmuan tentang Lepidoptera cuma pas-pasan, belum lagi kalau nanti bukunya mau di cetak, duitnya dari mana..??? Tapi bukan Biolaska namanya kalau tidak mau mencoba, tak peduli entah ilmu tentang Lepidoptera-nya yang pas-pasan atau mesti gadai HP/laptop dulu pas mau cetak buku. Yang penting judulnya menyalurkan bakat dan mengamalkan ilmu… Toh kalaupun dapet sokongan dana, entah dari manapun itu berasal, kalau dihitung jumlahnya tidak lebih banyak dari kiriman anak kuliahan per bulan… meski demikian justru itu yang malah menjadi motivasi bagi kami untuk terus berbuat dan terus berkarya meski hasil yang di dapat tak jarang langsung ludes dalam sekali ngangkring… Itupun kalau berbuah hasil, kalau tidak ya Wallahu a’lam

Tercetusnya “ide nekat” ini muncul begitu saja ketika melihat teman-teman Biolaska iseng-iseng melakukan identifikasi di kampus dengan peralatan tangkap berupa jaring biasa yang mungkin lebih cocok digunakan anak-anak TK untuk berburu capung, ditambah peralatan dokumentasi seadanya yang jauh dari kata profesional karena hanya bermodal beberapa kamera saku yang pastinya akan sangat sulit mengabadikan si kupu-kupu mengingat keagresifan dan sensitifitas mereka yang langsung kabur saat ada pergerakan manusia. Tapi kami pikir amat sangat di sayangkan juga kalau usaha dari teman-teman tidak ada hasil yang sifatnya nyata sebagai konsumsi publik yang memang harus tahu juga tentang keragaman jenis kupu-kupu di kampus mereka sendiri, tidak cuma sekedar untuk koleksi pribadi semata.

Dengan bermodalkan hasil bidikan yang seadanya, dan dengan keilmuan yang seadanya juga tentang kupu-kupu, atau bahkan malah sama sekali tidak tahu, kami coba untuk merekapnya dalam sebuah tampilan buku dengan judul “Inventarisasi Kupu-Kupu di Kampus UIN Sunan Kalijaga”. Bisa dibilang susah-susah gampang, dikatakan gampang karena memang sebagian besar dari kupu-kupu yang berhasil terabadikan sudah ada referensi tentang nama ilmiah beserta deskripsinya. Kesulitan baru dirasakan ketika ada beberapa jenis yang dokumentasinya tidak jelas, dalam artian foto yang didapat sama sekali jauh dari sempurna, ngeblur sana-sini.. maklum cuma pakai kamera saku. Malah ada yang tercatat jenisnya tapi tidak ada dokumentasi foto. Ada juga yang referensi tentang deskripsinya sama sekali tidak ada. Mau tidak mau terpaksa proses pengambilan data berupa foto harus dilakukan kembali, sementara untuk mensiasati ketiadaan referensi untuk mendeskripsikan terpaksa menggunakan “ilmu identifikasi burung”. Hal itu dilakukan tak lain dan tak bukan karena secara latar belakang sebagian dari kami adalah pengamat burung, maka tidak jarang dari segi penggunaan kata-kata saat mendeskripsikan kupu-kupu juga hampir sama ketika saat kami mendeskripsikan tentang morfologi dari suatu jenis burung tertentu. Contoh misalnya ada kata-kata “gradien warna”, atau “bagian sub-terminal”, dan masih banyak lagi. Lebih njlimet lagi ketika memikirkan bagaimana mendesain tampilan dari buku tersebut, secara memang kami sama sekali belum pernah membuat buku apa lagi sampai membuat desain dan memikirkan tata letaknya segala. Sungguh pekerjaan yang sangat merepotkan, melelahkan, dan sangat menyita waktu, tapi sekaligus juga tantangan dan pembelajaran baru buat kami tentang Entomologi terutama Lepidoptera.

Biasanya dalam sebuah buku, kata-kata yang terlontar pertama kali dari sang penulis adalah ucapan “Alhamdulillah…” lalu selanjutnya ucapan terima kasih kepada si ini dan si itu, di tambah lagi ada kalimat permintaan maaf karena belum sempurna, dan yang paling terakhir seolah menjadi wajib hukumnya bagi para penlis untuk menuliskan kata-kata “mohon masukan, kritik dan saran, bla.. bla.. bla..”. Sungguh, bukan maksud mengesampingkan rasa syukur. Bukan juga maksud hati untuk tidak mau menerima masukan apa lagi hujatan dari manapun, tapi slogan ‘kere ketemu hore’ sepertinya sudah sangat melekat kuat dalam hati sampai membuat kami mempunyai rasa percaya diri yang teramat tinggi. Seperti yang disampaikan oleh Kepala Suku Biolaska yang tertulis dalam buku (kalau tidak salah di halaman 2), “Semoga hadirnya (buku) ‘Inventarisasi Kupu-Kupu di Kampus UIN Sunan Kalijaga’ ini membawa beribu manfaat untuk tujuan konservasi ke depan”, kalau kami boleh menambahkan “khususnya untuk para civitas akademika sekaligus saintis sebagai peneliti dan kupu-kupu sebagai yang di teliti.” Atau setidaknya semoga dengan munculnya buku ini memotivasi rekan-rekan Biologi yang ‘malas’, entah malas karena tidak bisa meloncati pagar yang kelewat tinggi atau memang sudah terlalu nyaman berada di dalamnya.

So.. ayolah kawan… jangan jadikan jadwal kuliah yang padat, praktikum beserta laporannya menjadi alasan untuk kita tidak melakukan suatu apapun bahkan untuk berkontribusi terhadap kampus kita sendiri. Jadilah orang yang punya pikiran kreatif, karena sejatinya calon ilmuan seperti kita-kita adalah selalu ingin tahu dari apa yang belum diketahui. Sekali-kali melakukan sesuatu yang bermanfaat tanpa disuruh dosen terlebih dahulu apa salahnya? Bagi kami, tak peduli entah buku itu ada yang mau membaca atau tidak, justru dari hal itu kami tahu bahwa buku yang kami susun ternyata tidak layak terbit dan selanjutnya (Insya Allah)memotivasi kami untuk memperbaiki baik secara isi maupun tampilannya supaya menjadi layak untuk diterbitkan, terlihat lebih menarik dan orang jadi mau memegang, melihat serta membaca walaupun cuma sampul depan dan belakangnya saja… Harapannya semoga apa yang teman-teman Biolaska lakukan dari buku tersebut dapat menuai manfaat tidak hanya untuk Biolaska tetapi juga untuk semua kalangan kampus, syukur-syukur jika ada dari pihak petinggi kampus entah itu dosen, pegawai TU atau boleh juga Rektor UIN yang mau mendanai untuk proses percetakan. Sekaligus menunjukkan bahwa tanpa kita sadari ternyata ada segerombolan “penerbang cantik” yang mondar-mandir mencari keteduhan ditengah kebisingan kendaraan bermotor yang kian berjubel memadati kampus. Dan tentu saja semoga dengan adanya buku ini bisa menyadarkan kita bahwa keberadaan mereka di kampus kita tidak lagi terabaikan sehingga menggugah kita untuk menjaga “hak-hak” mereka yang (mungkin) kini kian terampas.

 

Salam Konservasi…!!


*Disampaikan dalam diskusi dwi-pekan Biolaska ke-II, 20 Maret 2012.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s